Kejujuran sepertinya sebuah hal yang sangat mahal di
jaman ini. Bisa kita lihat dipentas-pentas politik, betapa sebuah
ketidakjujuran, pembohongan dan kebohongan, lebih-lebih kebohongan publik
adalah sebuah sarapan yang bisa kita santap setiap hari, baik di media cetak,
media elektronik, dan Internet.
Begitu sulitnyakah berkata jujur dan mengungkap sebuah kejujuran? Sebuah kisah di jaman Rasulullah saw, mengajarkan tentang kejujuran adalah kunci kebaikan kehidupan. Berikut ini penggalan ceritanya.
Begitu sulitnyakah berkata jujur dan mengungkap sebuah kejujuran? Sebuah kisah di jaman Rasulullah saw, mengajarkan tentang kejujuran adalah kunci kebaikan kehidupan. Berikut ini penggalan ceritanya.
Suatu ketika, ada
seorang yang ingin masuk agama Islam. Namun dia menyatakan bahwa dia tak bisa
meninggalkan semua maksiat yang telah menjadi darah dagingnya. Jadi, dia
meminta ijin kepada Muhammad Rasulullah untuk masuk Islam namun tetap
diperbolehkan melakukan maksiat. Kalo bahasa gaulnya : "Rasul, saya pengen
masuk islam nih, tapi kalo boleh dilonggarin dikit yak aturannya. Ane masi
demen maksiat nih." Beuh, ni orang geblek banget ya.
Rasulullah tersenyum dan mempersilahkan orang tersebut melakukan semua maksiat yang dia inginkan, hanya dengan satu syarat : dilarang berbohong.
Orang itu berkata, "Beuh.. gampang bener syaratnya ya Rasul. Oke dah, Deal kalo begituh."
Sejak saat itu, setiap hari Rasullulah selalu bertanya kepada orang tersebut apa saja yang dia lakukan setiap hari. Dan orang itu merasa malu banget setiap kali harus menjawab bahwa dia habis melakukan maksiat. Apalagi pas ditanya di depan mimbar atau kumpulan orang-orang banyak. Mukanya mau ditaruh kemana..
Akhirnya orang itu berpikir seribu keliling tiap melakukan maksiat, karena pasti esoknya akan ditanya oleh Rasul, dan ia tidak boleh berbohong. Cape deh...
Tapi lihat dampaknya, lama-kelamaan, orang tersebut meninggalkan maksiat karena daripada malu tiap ditanya Rasul, dan mulai beribadah dengan giat.
Rasulullah tersenyum dan mempersilahkan orang tersebut melakukan semua maksiat yang dia inginkan, hanya dengan satu syarat : dilarang berbohong.
Orang itu berkata, "Beuh.. gampang bener syaratnya ya Rasul. Oke dah, Deal kalo begituh."
Sejak saat itu, setiap hari Rasullulah selalu bertanya kepada orang tersebut apa saja yang dia lakukan setiap hari. Dan orang itu merasa malu banget setiap kali harus menjawab bahwa dia habis melakukan maksiat. Apalagi pas ditanya di depan mimbar atau kumpulan orang-orang banyak. Mukanya mau ditaruh kemana..
Akhirnya orang itu berpikir seribu keliling tiap melakukan maksiat, karena pasti esoknya akan ditanya oleh Rasul, dan ia tidak boleh berbohong. Cape deh...
Tapi lihat dampaknya, lama-kelamaan, orang tersebut meninggalkan maksiat karena daripada malu tiap ditanya Rasul, dan mulai beribadah dengan giat.
Disini dapat
kita petik sebuah pesan moral tentang berkata jujur, bahwa jujur itu mampu
menjadi kunci hal buruk dalam kehidupan, seperti maksiat, selingkuh, korupsi,
maling, dan sebagainya. Coba andai manusia semua berkata jujur, pasti dijamin
gak ada yang namanya korupsi, pencurian, pencopetan, dan sebagainya.
Jujur itu perlu di latih dan terus dipraktekan agar menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Jujur bukan kebutuhan, tapi kewajiban, sehingga terasa berat.
Jujur itu perlu di latih dan terus dipraktekan agar menjadi sebuah kebiasaan yang baik. Jujur bukan kebutuhan, tapi kewajiban, sehingga terasa berat.
0 komentar:
Posting Komentar